Rabu, Desember 29, 2010

Bernyanyilah Agar Tak Depresi

Selama ini menyanyi hanya dilakukan orang untuk menyalurkan hobi atau mengisi waktu luangnya. Tapi terapis menggunakan kekuatan dari bernyanyi untuk meningkatkan kepercayan diri serta mengatasi depresi.

Salah satu teknik yang digunakan adalah Psychophonie yang dikembangkan di Perancis. Terapi ini memungkinkan terapis menggunakan musik dan irama untuk meringankan kondisi seperti kecemasan, depresi dan kecanduan sesuatu.

Ide bernyanyi sebagai terapi suara sangat menarik dan umumnya lebih disukai oleh masyarakat. Hal ini karena teknik bernyanyi lebih mudah dilakukan dan dengan bernyanyi seseorang bisa mendapatkan kembali kepercayaan dirinya sehingga mengurangi kecemasan atau depresi.

Chloe, seorang terapis menyanyi dan guru menuturkan setiap orang bisa melakukan terapi ini dengan cara berusaha mencari suara otentik atau suara sejatinya, yaitu salah satu suara yang berasal dari emosi dasar di dalam tubuhnya.

Seseorang harus bisa menemukan terlebih dahulu posisi yang membuatnya nyaman ketika bernyanyi. Setelah itu temukan perasaan yang dialaminya dengan tepat, lalu mulainya bernyanyi. Semakin banyak energi yang dimasukan ke dalam tubuh saat bernyanyi akan membuat seseorang lebih santai sehingga ia menjadi merasa lebih baik.

Selain itu setiap suara yang disertai dengan salah satu posisi seni bela diri bisa membantu membuka pikiran dan tubuh seseorang. Misalnya saat orang bernyanyi sambil merentangkan lengannya ke atas kepala akan membantu mengisi energi tubuh dan juga membangkitkan suara sejatinya.

"Bernyanyi adalah salah satu bentuk keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, karena saat itu ia akan bernyanyi tanpa rasa takut dan kadang bisa sangat emosional sehingga ia menangis, marah atau sedih," ungkap Chloe, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (27/12/2010).

Jika seseorang berpikir ia tidak bisa bernyanyi, hal ini karena ia menekan suara sejatinya. Tapi setelah ia membiarkannya keluar, maka ia akan mengalami peningkatan kepercayaan diri dan menghilangkan segala rasa takut atau cemas yang dapat memicu depresi.

"Dengan bernyanyi bisa membantu seseorang berbicara dengan pikirannya sendiri yang akan mmebuatnya merasa lebih ringan dan juga bahagia, sehingga seseorang bisa menggunakan kekuatan bernyanyi untuk menghilangkan depresi," ujar Chloe.

::SUMBER::

Sayuran yang Bikin Tulang Kuat

Kebanyakan orang berpikir bahwa terbaik untuk tulang dan gigi adalah susu. Tapi ternyata tak hanya itu, sayuran pun tak kalah baiknya untuk membuat tulang dan gigi tetap kuat.

Susu memang sumber kalsium yang membangun tulang tumbuh kuat, tapi susu bukan satu-satunya sumber mineral penting tersebut. Sayuran tertentu juga memberikan banyak kalsium dan vitamin K, nutrisi yang sama pentingnya untuk kesehatan tulang.

Baik sayuran dan buah-buahan dapat meningkatkan kesehatan tulang dengan menetralisir darah, yang membantu mengurangi ekskresi kalsium dan kehilangan atau kekeroposan tulang.

Untuk membangun dan mempertahankan tulang yang kuat, tubuh membutuhkan jumlah kalsium, vitamin D dan vitamin K yang cukup. Ketiga nutrisi tersebut bekerja sama untuk membangun dan memperbaiki tulang, dengan vitamin D dan K memainkan peran sentral dalam penyerapan kalsium.

Dilansir Livestrong, Senin (26/12/2010), sayuran hijau merupakan sumber utama vitamin K dan juga menyediakan kalsium. Contohnya antara lain:

Lobak
Brokoli
Kubis Brussel
Peterseli
Bawang,
Selada
Asparagus
Okra
Kacang polong
Selada air
Bok choy

Namun, tidak semua sayuran hijau mengandung kalsium, mineral yang penting untuk tulang. Menurut Harvard School of Public Health, beberapa sayuran juga mengandung asam oksalat, yang menghambat penyerapan kalsium, contohnya bayam dan lobak Swiss.

Ketika darah menjadi terlalu asam, tubuh meminjam kalsium dari tulang untuk menetralkan darah. Jika hal ini terjadi sering dan tubuh Anda tidak cukup mengkonsumsi nutrisi tinggi kalsium, vitamin K dan D, maka tulang akan menjadi rapuh dan lemah.

Untuk itu, selain mengonsumsi susu, perbanyaklah makan sayuran yang mengandung kalsium dan nutrisi penting lain yang baik untuk menjaga tulang tetap kuat.

::SUMBER::

Apa yang Harus Dilakukan Jika Menelan Permen Karet?

Permen karet tidak untuk ditelan tapi terkadang bisa tidak sengaja tertelan, terutama pada anak-anak. Saat tak sengaja menelan permen karet biasanya orang akan panik. Jika sudah begitu, apa yang harus dilakukan?

Permen karet terbuat dari pemanis, perasa dan bahan sintetis (gum resin). Tubuh manusia dapat menyerap pemanis seperti gula dan bisa menambah kalori jika permen karet tersebut mengandung gula yang tinggi.

Tapi pencernaan manusia tidak bisa mencerna gum resin. Biasanya dengan bantuan gerakan peristaltik dari usus (usus mendorong bahan tersebut), maka permen karet tersebut akan keluar saat orang buang air besar.

Dilansir Buzzle, Selasa (28/12/2010), seluruh proses gum resin dari kerongkongan ke perut, usus dan keluar melalui ekskresi tubuh biasanya memakan waktu 2-3 hari. Ini membuktikan bahwa sebenarnya tidak berbahaya bila tidak sengaja menelan permen karet.

Namun bukan berarti permen karet boleh sengaja ditelan. Menelan permen karet untuk sekali waktu memang tidak membahayakan tubuh, tapi bila hal tersebut terjadi secara terus-menerus dan dalam waktu relatif singkat bisa menyebabkan sumbatan pencernaan.

Anak-anak dengan saluran pencernaan yang kecil paling rawan tersedak bila menelan permen karet. Dalam kasus yang jarang terjadi, permen karet yang tertelan dalam jumlah banyak juga dapat menyebabkan perut kembung, diare atau konstipasi (sulit buang air besar).

Jadi apa yang harus dilakukan bila tidak sengaja menelan permen karet?
1. Segera minum air putih yang banyak.
Hal ini menghindari agar permen karet tidak menutup kerongkongan yang menyebabkan tersedak, terutama pada anak-anak.

2. Untuk cepat mengeluarkan permen karet dari tubuh, juga bisa dibantu dengan makanan.
Makanan akan membantu mendorong permen karet sehingga gerakan peristaltik dari usus semakin cepat mengeluarkannya dari tubuh.

::SUMBER::

Bisakah Vagina Longgar Dirapatkan Kembali?

Setiap wanita dalam hidupnya akan mengalami masalah dengan vagina yang menjadi longgar. Penyebab utamanya adalah proses melahirkan dan penuaan (usia). Bisakah vagina yang sudah longgar dirapatkan kembali?

Melahirkan, usia dan terlalu sering berhubungan seksual adalah faktor utama yang bisa melonggarkan vagina wanita. Namun karena sifatnya yang elastis, vagina wanita bisa kembali dirapatkan dengan metode-metode tertentu.

Seorang wanita dengan vagina longgar cenderung mengalami masalah libido rendah, hal ini karena kurang rasa penetrasi akibat vagina longgar dan dapat menyebabkan masalah pada hubungan seks.

Kondisi tersebut juga membuat wanita lebih mungkin mengalami inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar atau kecil) dan vagina berbau.

Di masa lalu, metode bedah atau operasi dinilai cukup efektif dan cepat untuk merapatkan dan mengencangkan kembali vagina yang sudah longgar. Namun, metode ini harus mengeluarkan uang yang cukup banyak, sehingga tak banyak wanita bisa melakukannya.

Namun sebenarnya tak perlu membuang banyak uang untuk merapatkan vagina. Latihan dan herbal tertentu bisa membantu mengembalikan otot vagina kembali rapat.

Dilansir Selfgrowth, Senin (27/12/2010), berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merapatkan vagina yang longgar:

1. Latihan Kegel
Latihan vagina terkenal yang dapat membantu memperkuat otot-otot vagina adalah latihan Kegel. Senam kegel berguna untuk melatih otot dasar panggul atau disebut dengan pubococcygeus (PC). Otot-otot yang bergerak adalah organ dalam panggul yaitu rahim, kantong kemih, dan usus.

Teknik senam Kegel yang mudah dilakukan caranya adalah kontraksikan otot seperti menahan kencing untuk awalnya selama 5 detik, kemudian kendurkan. Terus ulangi latihan tersebut setidaknya lima kali berturut-turut dengan meningkatkan lama waktu menahan kencing 15-20 detik.

Latihan ini tergolong mudah karena bisa dilakukan kapan saja dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Latihan bisa dilakukan di kursi kerja, sambil duduk, sambil berjalan, sambil berdiri, atau berbaring.

Latihan ini tidak hanya membantu memulihkan elastisitas vagina, tetapi juga meningkatkan aliran darah ke daerah vagina. Hal ini sangat efektif dalam meningkatkan libido pada wanita. Bukan hanya ini, juga dapat mempercepat membangkitkan dan meningkatkan respons terhadap rangsangan seksual.

2. Gel vagina berbahan alami
Gel pelumas vagina dengan bahan alami yang mengandung ekstrak ginseng, oak, Hamamelis atau ekstrak tanaman Pureria Mirifica. Tanaman Pureria Mirifica yang kaya akan fitoestrogen tidak hanya memastikan pengetatan vagina, tetapi juga merupakan anti-aging yang cukup baik.

3. 'Kerucut vagina' (vaginal cone)
Obat lain yang menggunakan otot untuk mengencangkan vagina adalah vaginal cone. Vaginal cone berbentuk seperti tampon dengan berat yang bervariasi.

Cara menggunakan adalah dengan memasukkan kerucut kecil ke dalam vagina dan meremasnya dengan menggunakan otot-otot vagina. Lakukan ini beberapa kali sehari sedikitnya 15 menit. Metode ini perlahan-lahan akan membantu mengencangkan otot vagina.

::SUMBER::

Bencana Akibat Berciuman

Berciuman dengan pasangan terbukti bisa meredakan stres, menenangkan jiwa dan juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tapi jika kondisi badan tidak sehat, berciuman malah bisa berbuah menjadi bencana.

Saat berciuman, kadang terjadi pertukaran saliva (air liur) antar kedua orang tersebut. Hal ini ternyata bisa menimbulkan infeksi mononuecleosis atau dikenal dengan kissing disease.

Infeksi mononuecleosis ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr dan Cytomegalovirus (CMV). Virus ini menyebar melalui cairan tubuh seperti air liur, lendir atau air mata.

Sebagian besar penularan penyakit adalah melalui ciuman, sehingga sering disebut dengan kissing disease. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu yang sama, minum dari gelas yang sama serta berbagi sikat gigi juga bisa menularkan infeksi amononuecleosis.

Infeksi mikroba lain yang menyebar melalui air liur dengan menempel pada permukaan bagian dalam dari pipi dan mulut, lidah atau gigi, contohnya adalah bakteri Streptococcus, yang dapat menyebabkan berbagai infeksi, termasuk penyakit gusi dan sakit tenggorokan.

Dilansir mayoclinic, Selasa (28/12/2010), berikut beberapa gejala yang ditimbulkan dari kissing disease:
Demam tinggi
Sakit tenggorokan
Pembengkakan kelenjar
Amandel
Merasa lemah dan lesu

Kebanyakan orang yang menderita penyakit ini adalah orang-orang muda, tapi tak jarang anak-anak pun bisa mengalaminya.

Namun jika terjadi pada anak-anak biasanya tidak menunjukkan gejala atau gejala yang timbul sangat ringan. Orang-orang yang telah terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala selama 4-8 minggu setelah terpapar.

Virus ini akan melewati air liur dan masuk ke dalam sel epitel bagian luar mulut dan tenggorokan, kondisi ini memungkinkan virus untuk berkembang biak dan menginfeksi sel-sel darah putih yang disebut dengan sel B.

Infeksi virus pada sel B menyebabkan penyebaran virus di seluruh getah bening, sistem kelenjar dan limpa (dikenal dengan sistem lymphoreticular).

Beberapa komplikasi dapat terjadi karena infeksi mononuecleosis ini, antara lain pembesaran limpa, ganggian hati, anemia makin parah, penurunan jumlah trombosit yang mempengaruhi pembekuan darah (trombositopenia) dan gangguan sistem saraf.

Yang perlu diingat, permukaan saluran pernapasan (hidung, mulut dan tenggorokan) kontinu dan terdiri dari jaringan yang sama. Akibatnya, mikroba yang ditemukan dalam air liur umumnya dapay ditemukan juga di bagian lain dari saluran pernapasan, termasuk hidung dan tenggorokan.

Oleh karena itu, selain menyebabkan infeksi mononuecleosis berciuman dengan orang yang tidak sehat juga dapat menyebabkan penyakit lain, seperti dilansir About.com antara lain herpes oral dan flu Singapura atau Hand Foot and Mouth Disease (HFMD).

Penyebaran mikroba menular melalui air liur dapat terjadi ketika ketahanan alami di mulut berkurang. Sebagai contoh, infeksi gusi dapat terjadi pada orang dengan kekurangan vitamin C, sedangkan sariawan disebabkan oleh infeksi ragi Candida, lebih cenderung terjadi pada orang yang telah minum antibiotik.

Tapi sariawan tidak menular. Berbeda dengan virus herpes oral dan HFMD, sariawan tidak memiliki asal penyakit menular dan tidak dapat menyebar melalui air liur atau berciuman.

::SUMBER::

Kenapa Bisa Muncul Lesung Pipit di Pipi?

Lesung pipit atau lekuk kecil yang ada di pipi seseorang memang bisa menambah kecantikan atau ketampanan. Tapi tidak semua orang memiliki lesung pipit di wajahnya. Kenapa ada orang yang memiliki lesung pipit dan ada juga yang tidak?

Beberapa masyarakat ada yang percaya dengan mitos bahwa lesung pipit bisa terbentuk dengan cara menusukkan ujung cabai ke pipi bayi. Tapi ternyata mitos tersebut tidaklah benar, karena lesung pipit terjadi akibat kelainan dari otot pipi yang diturunkan.

Lesung pipit bisa muncul di kedua pipi atau hanya di salah satu pipi saja dan biasanya akan terlihat dengan jelas di wajah seseorang ketika ia sedang tersenyum, berbicara atau tertawa. Beberapa orang memiliki lesung pipi yang dalam dan sangat terlihat, sedangkan yang lainnya hanya terlihat samar-samar.

Fenomena lesung pipit dipengaruhi oleh faktor genetik dan diperlukan gen lesung pipit yang dominan. Jika salah satu orangtua atau kakek neneknya memiliki lesung pipit, maka ada kemungkinan lesung pipit ini akan diturunkan ke generasi berikutnya. Anak-anak yang terlahir dari salah satu orangtua dengan lesung pipit akan memiliki kesempatan sebesar 25-50 persen.

Seperti dikutip dari NCTimes, Rabu (29/12/2010) Dr Joel Pessa, seorang ahli bedah plastik di University of Texas Health Science Center dalam makalah yang diterbitkan jurnal Clinical Anatomy tahun 1998, menuturkan lesung pipit disebabkan oleh kecacatan dari otot zygomaticus utama.

Lesung pipit yang muncul pada wajah seseorang diakibatkan oleh otot zygomaticus utama yang lebih pendek daripada ukuran sebenarnya atau otot ini terbelah menjadi dua, kondisi ini menyebabkan adanya lekukan pada pipi.

Ketika seseorang tersenyum atau berbicara, maka ada daya tarik dari kulit yang membuat lesung pipit muncul akibat efek penarikan kulit tersebut. Hal ini diketahui setelah peneliti membedah anatomi wajah 50 mayat yang memiliki lesung pipit. Lesung pipit umumnya tidak terlihat ketika seseorang sedang diam, karena otot pipi tersebut tidak mengalami penarikan atau dalam posisi diam.

Beberapa orang ada yang hanya memiliki lesung pipit ketika masih anak-anak atau muda. Hal ini karena seiring waktu otot wajah ini secara perlahan akan meregang yang membuat lesung pipit memudar atau hilang.


::SUMBER::

Ukuran Otak Pengaruhi Jumlah Teman

Banyaknya teman menandakan bahwa Anda adalah orang yang pandai bersosialisasi. Tapi penelitian baru menemukan bahwa jumlah teman bisa dipengaruhi oleh ukuran otak.

Peneliti menemukan bahwa semakin besar bagian otak yang terkait dengan emosi, maka semakin banyak pula teman yang dimilikinya.

Bagian otak tersebut adalah amygdala, yaitu bagian otak yang menyerupai bentuk almond dan bertanggungjawab pada kemampuan emosi dan juga mengontrol rasa takut.

"Semakin besar amygdala seseorang, maka semakin banyak pula jaringan sosial dan teman yang ia milikinya," jelas Paul Sanberg, direktur University of South Florida Centre of Excellence for Aging and Brain Repair, Tampa, dilansir dari Health24, Rabu (29/12/2010).

Menurut Sanberg temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, yang menyebutkan bahwa manusia dan primata yang memiliki amygdala besar akan terlibat dalam kelompok sosial yang agak kompleks.

Dalam studi terbaru ini tim peneliti dari Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital telah mempelajari otak 58 orang sehat usia 19 hingga 83 tahun.

Partisipan diminta untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang kontak teratur dengan kelompok sosialnya termasuk jumlah teman pada Facebook, yang dianggap sebagai indikasi kompleksitas orang pada jaringan sosial.

Selagi menjawab pertanyaan, ukuran amygdala otak partisipan juga diukur dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging atau CT Scan otak).

Hasilnya, ternyata semakin luas dan kompleks kelompok sosial seseorang, maka semakin besar pula ukuran amygdala otaknya. Hal ini terlepas dari usia dan jenis kelamin partisipan.

Tapi di sisi lain, tidak ada hubungan antara jumlah teman atau kelompok sosial dengan ukuran bagian-bagian otak lainnya.

"Hal ini penting agar kami dapat membantu menentukan peran amygdala dan melihat orang-orang yang mungkin mengalami masalah sosial. Jika kita memahami bagaimana amygdala yang terlibat dalam perilaku sosial, kita bisa mencari cara yang mungkin untuk membantu orang-orang," kata Sanberg.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal online Nature Neuroscience pada 26 Desember lalu.


::SUMBER::